Ketika Kamu Memilih

Nantinya …

Ketika KAMU memilih RASA
Biarkan lidah mu memilihnya

Ketika KAMU memilih CINTA
Biarkan hati mu memilihnya

Ketika KAMU memilih DIA
Biarkan bukan karena AKU

Karena RASA CINTA DIA
dipilih  KAMU  yang telah berhenti mencoba mencintai KITA

Karena RASA CINTA AKU
berhenti ketika KAMU bahagia bersama DIA

RASA menyatu dalam detik
detik mengalirkan CINTA seperti bola cepat
Bola cepat yang berputar seakan tidak berhenti
Sampai KITA tidak menyadari
akan datang  saatnya menghentikan detik KITA

Ketika kamu memilih
KAMU RASA KAMU CINTA DIA
KAMU DIA AKU KAMU
KITA RASA CINTA AKU KAMU
DIA RASA CINTA KITA

-KITA-

AKU MEMILIH CINTA
AKU MEMILIH RASA
AKU MEMILIH KAMU

KAMU ?

Hari Pahlawan

Merdeka atau Mati
– Bung Tomo-

Selamat Hari Pahlawan 10 November! Beginilah euphoria yang terjadi hari ini, sebagian merayakannya dengan kata – kata nasionalisme dan sebagian sedang berjuang menjadi ‘pahlawan’ itu sendiri. Hari mulai beranjak petang dan kilas balik perjuangan 70 tahun lalu di Surabaya berdentum, detik demi detik bergulir dan satu persatu dari para pahlawan gugur menyisakan melodi sebagai bangsa merdeka atau mati.

Aku bertanya dalam diri
di sebagian manakah aku
jiwa merdeka yang merayakan momentum
atau jiwa yang sedang mempertahankan kemerdekaan 

Kemarin saya mendapat interview kerja pertama saya sebagai calon pekerja dan ada satu pertanyaan yang masih membekas dalam pikiran saya. ‘Mengapa kamu mau bekerja di kegiatan sosial non-profit dan jika kamu bekerja apakah tidak akan menggangu waktu kamu untuk berkontribusi?’.  Saya menjawabnya, ‘Saya masih memiliki utang yang banyak kepada pemerintah Indonesia, contoh kecilnya adalah biaya sekolah saya masih disubsidi oleh pemerintah. Utang – utang kecil dan banyak itu yang seharusnya membuat saya tergerak mengembalikannya dalam bentuk kontribusi terhadap sesama dan lingkungan. Dimanapun jalan saya untuk berkontribusi, saya percaya jiwa ini tetap harus memiliki pengabdian terhadap bangsa’.

Tetapi apakah yang kulakukan sudah banyak?
Apakah yang kulakukan sudah cukup?
Apakah mereka semua merasakannya?

Pertanyaan kedua, ketika seorang ibu bertanya tentang apa yang harus dipersiapkan anaknya yang masih SD untuk lolos seleksi FIM di masa yang akan datang. Saya menjawab ‘ mengajarkan anaknya tentang jiwa sukarelawan sebagai amal untuk jiwa yang haus akan kontribusi yang sebanyak-banyaknya bagi lingkungan’. Saya tidak menjamin anak sang ibu untuk masuk FIM, tapi satu hal yang saya pelajari adalah mereka yang lolos adalah pemuda yang haus dengan hasrat untuk berkontribusi dan bersukarela dalam duka yang  tinggi untuk Indonesia.

biarkan saya haus untuk berkontribusi, biarkan saya minum
minum dalam gelas yang sama
gelas yang berjuang untuk bangsa merdeka

Pertanyaan ketiga adalah pertanyaan untuk diri saya sendiri, Siapakah saya yang menjawab 2 pertanyaan itu?. saya masih merasa malu untuk segala hal yang belum saya bisa berikan untuk bangsa ini. Saya tidak berbuat apa-apa. Bagaimana saya bisa mengucapkan selamat hari pahlawan, bahkan saya belum mampu menanam dan merawat satu pohon yang besar selama hidup saya untuk menghasilkan satu siklus kehidupan sederhana. Bagaimana kita mampu berteriak merdeka atau mati, tapi terkadang kita takut ketika berbagi makanan terakhir saja boleh berpikir akan mati.

Jiwa saya selalu berteriak untuk pengabdian dan pembangunan bangsa yang mandiri. saya ingin mengabdi. Kemudian mama saya berkata ‘Kesempatan besar terlihat ketika kamu melakukan segala hal yang tidak kelihatan oleh orang lain. Jangan menjadi haus untuk dipuji, hauslah untuk menjadi orang yang mengasihi’. Terimakasih mama, atas kasih yang seperti air mengalir menenangkan jiwa. Kemudian saya memilih untuk melihat apa yang tidak kelihatan dan menolong tanpa diketahui. Seperti visi para volunteer gerakan Turun Tangan yang memberi inspirasi untuk melihat kebaikan, seperti misi Earth Hour yang percaya bahwa butuh satu tangan untuk membantu tangan lainnya berdiri bersama menjaga lingkungan. Saya percaya, menjadi pahlawan masa kini tidak perlu dengan menjadi hal besar tetapi berbesar hatilah akan diri kita. Karena ada ribuan pahlawan yang gugur demi hak proklamasi kemerdekaan dan mereka yang seratus tahun lalu tidak dikenal, sekarang kita dengan bangga menyebut mereka PAHLAWAN.

Kelak kita akan melihat anak cucu kita
mereka yang tidak tinggal dalam generasi amarah
amarah melihat apa yang tidak kita perbuat hari ini

Fenomena 14 Februari

Fenomena 14 Februari

Tetangga di depan kamar kos saya pernah bertanya.
mbak burju, mbak kuliah kimia belajar apaan sih ?’.
Jawab saya ‘mengamati peristiwa mbak. Bagaimana suatu hal itu bisa terjadi dan berakhir’.

Fenomena 14 Februari
Fenomena 14 Februari

Fenomena pro-kontra sudah sangat lumrah di Indonesia. Contoh sederhananya, seperti saya yang lagi duduk diam menikmati hidup dengan suara nyanyian burung sambil nyedot wifii di bale bengong salah satu kampus Universitas Udayana, bakal menjadi kontra bagi mahasiswa ‘asli sini‘. Apalagi kalo saya nyedotnya enggak pake aturan, download film sebanyak – banyaknya dan membuat koneksi jadi lemot. Mungkin mereka akan mematikan listrik dan otomatis download-an saya terhenti atau berdehem dengan keras ‘Make wifii enggak ada aturan, jadi lemot sekali‘.  Sedangkan saya bisa saja kontra dan merasa sangat – sangat terganggu terhadap anak – anak SMA yang lagi ribut main get rich disaat saya lagi menikmati hidup. dengan alasan, karena mereka bukan mahasiswa Universitas Udayana. Kemudian saya akan membalasnya dengan memutar lagu KEBYAR – KEBYAR disambut lagu Indonesia Raya dan ditutup dengan Mengheningkan Cipta pada volume paling maksimal. Itulah hal yang terjadi ketika semua hal menjadi kontra, PEMBALASAN.

Ketika semua hal menjadi Pro, mungkin mahasiswa itu akan berkata “Kamu lagi download film ya ?. Film Apa ? Aku boleh minta enggak ? Aku juga lagi download film ini, tapi kalo kamu udah download biar aku stop-in”. Atau ketika anak – anak SMA yang bermain let’s get rich itu berisik, mungkin kita bisa mencoba duel dengan mereka. Bermain bersama, kirim -kiriman clover jika seandainya kirim – kiriman kasih sayang terlalu sulit. Bisa jadi dengan tambahan clover, berlanjutnya menjadi tambahan pertemanan buat kamu dan mereka. Tapi sekali lagi, ada batas – batas yang terlalu sulit untuk dijalani. Ketika semuanya menjadi Pro, mungkin menikmati dunia tidak sebahagia memutar lagu gombloh dengan semangat indonesia pada volume maksimal. Atau ketika semua menjadi kontra, mungkin saya tidak aman lagi duduk di bale bengong, mungkin tempat ini akan menjadi bale keributan dengan dilemparnya saya dengan botol satu persatu.

Lanjutkan membaca “Fenomena 14 Februari”

Nasihat Sahabat

Aku datang bukan untuk menggurui, berceramah tentang filosofi kehidupan yang tidak dimengerti.
Karena kamu memiliki akar kehidupan sendiri, bertumbuh menjadi batang, daun, dan buah yang memiliki bentuk
yah, bentuk yang tidak mungkin sama denganku..

Menulis tentang sahabat rasanya seperti terbang kembali ke masa ABG (Anak Baru Gede, istilah yang beda dengan kimcil -red) umur tiga-belasan tahun bersama kelompok atau geng-gong, atau di jaman hip-hip-hura sekarang disebut grup line, whatapps, atau BBM. Kalau jaman baheula dulu, friendster adalah sebuah kemewahan. Tapi berkumpul di sore hari bermain bersama, saling berinteraksi antara mata ke mata, hati ke hati, dan dari mata turun ke hati itu adalah sesuatu moment priceless yang sulit didapat pada jaman serba teknologi sekarang.

Seperti yang saya lakukan sekarang, duduk berhadapan dengan room-mate Yudha dalam lomba tulis-menulis-di wordpress. Kadar eye-contact selama 3 jam terakhir ? hanya sebatas masalah kuliah 20% dan selebihnya kembali tenggelam dalam dunia maya masing – masing. WEIRD

Anggaplah, pra-wacana diatas sebagai awal nasihat sahabat. Agak terlalu ngehe jika saya berteori apa itu sahabat ?Bagaimana ciri – ciri sahabat yang baik buat kamu dan bla-to-the-bla lainnya. Sahabat itu orang yang terkira, bukan ujug – ujug orang yang baru kamu temui di dalam cafe dan mengobrol bersama mereka tentang part of your life selama 5 jam. Dia adalah orang yang bisa saja jauh darimu dalam hal jarak, memiliki kehidupan berbeda dengan kalian atau hobi menggangu ketika sedang menulis tulisan ini, menyebalkan. Tapi dia orang yang selalu membuatmu merasa dekat, bagaimanapun kamu. Seburuk apapun rupamu dan sehancur apapun tubuhmu. Kamu dalam hati mengetahui, dia orang yang mau menerima mu apa adanya, dia tidak akan menghancurkanmu.

Lanjutkan membaca “Nasihat Sahabat”

Terkadang

Terkadang sulit dimengerti kapan cinta itu datang atau apa makna dari kata cinta itu sendiri.

Terkadang sulit untuk memalsukan hati, memalsukan rasa bergetar di dalam diri ketika kata “iya” dan “tidak” menjadi sebuah pilihan. Ketika sebuah hubungan yang terajut menjadi resiko untuk saling memahami. Atau semakin bermakna kah cinta itu ketika persimpangan selalu berubah menjadi jurang pemisah ?

love ? like a shitt

Cinta itu bau, cinta itu bangkai, cinta itu menyakitkan . Tapi terkadang aku menyukainya, menyukai setiap hal busuk yang terjadi dalam sebuah percintaan. Menyukai aku tidak lagi berdiri sendiri , aku bersama seseorang yang tanpa sadar ikut larut dalam segala kebusukan yang terjadi. Itulah cinta, aku tidak hanya bisa mengharapkan hal – hal baik akan terus terjadi. kamu dan aku ?

Pernahkah sanubari hati kamu bergetar ketika bersama orang lain ? Hanya beberapa detik saja, saat melihat matanya kalian tidak berpikir tentang indahnya kenangan manis bersama pasangan kalian. Atau ketika kamu dan dia yang tidak saling bertemu serta terpisah jarak mengingat kembali kenangan dari berbagai ungkapan hati masa lalu yang masih terpendam. Lalu seketika kamu sadar , kalian sudah tidak sendiri lagi. Bergetarkah ? salahkah ?

Apakah itu rasa pengabaian ? ataukah itu rasa pelampiasan ? saat kata “iya” dan “tidak” kembali menjadi pemotong suatu pilihan. berdusta kah hati kita ? “aku ingin bertemu dia, tapi dia memilih untuk pergi dengan rasa yang masih di hati” dan drama ini kemudian terulang oleh ribuan atau ratusan ribu umat manusia di dunia sebagai penyesalan masa lalu. jika dan hanya jika aku… Lanjutkan membaca “Terkadang”