Hari Pahlawan

Merdeka atau Mati
– Bung Tomo-

Selamat Hari Pahlawan 10 November! Beginilah euphoria yang terjadi hari ini, sebagian merayakannya dengan kata – kata nasionalisme dan sebagian sedang berjuang menjadi ‘pahlawan’ itu sendiri. Hari mulai beranjak petang dan kilas balik perjuangan 70 tahun lalu di Surabaya berdentum, detik demi detik bergulir dan satu persatu dari para pahlawan gugur menyisakan melodi sebagai bangsa merdeka atau mati.

Aku bertanya dalam diri
di sebagian manakah aku
jiwa merdeka yang merayakan momentum
atau jiwa yang sedang mempertahankan kemerdekaan 

Kemarin saya mendapat interview kerja pertama saya sebagai calon pekerja dan ada satu pertanyaan yang masih membekas dalam pikiran saya. ‘Mengapa kamu mau bekerja di kegiatan sosial non-profit dan jika kamu bekerja apakah tidak akan menggangu waktu kamu untuk berkontribusi?’.  Saya menjawabnya, ‘Saya masih memiliki utang yang banyak kepada pemerintah Indonesia, contoh kecilnya adalah biaya sekolah saya masih disubsidi oleh pemerintah. Utang – utang kecil dan banyak itu yang seharusnya membuat saya tergerak mengembalikannya dalam bentuk kontribusi terhadap sesama dan lingkungan. Dimanapun jalan saya untuk berkontribusi, saya percaya jiwa ini tetap harus memiliki pengabdian terhadap bangsa’.

Tetapi apakah yang kulakukan sudah banyak?
Apakah yang kulakukan sudah cukup?
Apakah mereka semua merasakannya?

Pertanyaan kedua, ketika seorang ibu bertanya tentang apa yang harus dipersiapkan anaknya yang masih SD untuk lolos seleksi FIM di masa yang akan datang. Saya menjawab ‘ mengajarkan anaknya tentang jiwa sukarelawan sebagai amal untuk jiwa yang haus akan kontribusi yang sebanyak-banyaknya bagi lingkungan’. Saya tidak menjamin anak sang ibu untuk masuk FIM, tapi satu hal yang saya pelajari adalah mereka yang lolos adalah pemuda yang haus dengan hasrat untuk berkontribusi dan bersukarela dalam duka yang  tinggi untuk Indonesia.

biarkan saya haus untuk berkontribusi, biarkan saya minum
minum dalam gelas yang sama
gelas yang berjuang untuk bangsa merdeka

Pertanyaan ketiga adalah pertanyaan untuk diri saya sendiri, Siapakah saya yang menjawab 2 pertanyaan itu?. saya masih merasa malu untuk segala hal yang belum saya bisa berikan untuk bangsa ini. Saya tidak berbuat apa-apa. Bagaimana saya bisa mengucapkan selamat hari pahlawan, bahkan saya belum mampu menanam dan merawat satu pohon yang besar selama hidup saya untuk menghasilkan satu siklus kehidupan sederhana. Bagaimana kita mampu berteriak merdeka atau mati, tapi terkadang kita takut ketika berbagi makanan terakhir saja boleh berpikir akan mati.

Jiwa saya selalu berteriak untuk pengabdian dan pembangunan bangsa yang mandiri. saya ingin mengabdi. Kemudian mama saya berkata ‘Kesempatan besar terlihat ketika kamu melakukan segala hal yang tidak kelihatan oleh orang lain. Jangan menjadi haus untuk dipuji, hauslah untuk menjadi orang yang mengasihi’. Terimakasih mama, atas kasih yang seperti air mengalir menenangkan jiwa. Kemudian saya memilih untuk melihat apa yang tidak kelihatan dan menolong tanpa diketahui. Seperti visi para volunteer gerakan Turun Tangan yang memberi inspirasi untuk melihat kebaikan, seperti misi Earth Hour yang percaya bahwa butuh satu tangan untuk membantu tangan lainnya berdiri bersama menjaga lingkungan. Saya percaya, menjadi pahlawan masa kini tidak perlu dengan menjadi hal besar tetapi berbesar hatilah akan diri kita. Karena ada ribuan pahlawan yang gugur demi hak proklamasi kemerdekaan dan mereka yang seratus tahun lalu tidak dikenal, sekarang kita dengan bangga menyebut mereka PAHLAWAN.

Kelak kita akan melihat anak cucu kita
mereka yang tidak tinggal dalam generasi amarah
amarah melihat apa yang tidak kita perbuat hari ini

PRIDE

source: deviantart.net
source: deviantart.net , credit by : amandahuff

Setiap manusia memiliki kesempatan menjadi minioritas.
Tetapi tidak semua yang minioritas dapat memiliki solidaritas.

Dua bulan yang lalu saya tersentak kagum saat menonton sebuah film berjudul ‘PRIDE’, film yang berjudul perjuangan para kaum LGBT di inggris untuk memperjuangkan hak – hak penyetaraaan untuk tidak didiskriminasi, hak – hak pengakuan kaum minioritas, hak – hak dimana suara seperti lonceng gereja yang harus didengar bukan untuk diabaikan.

Saya ingin sekali menulis tentang PRIDE, ketika melihat bagaimana kelompok LGBT memilih kelompok buruh dari wales sebagai bagian dari perjuangan yang hakiki. Bagaimana solidaritas yang terjadi antar minioritas dapat membentuk harmoni perjuangan itu sendiri. Bagaimana akhir perjuangan itu bukan soal pengakuan hak, tapi soal mempertahankan kemenangan ini dalam semangat perjuangan sampai ke generasi berikutnya.

Kita generasi yang ketika kecil disuap, besar menyuap
Kita generasi yang mewariskan feodalisme terhadap sesama secara fasih
Kita generasi yang ketika aku dan kamu ada, tapi merasa tak ada

Saya ingin sekali menulis tentang PRIDE, karena kita hidup dalam kesempatan yang tinggi untuk memilih menjadi minioritas. Ayahku muslim, Ibuku Kristen, aku dan adikku terjebak sebagai minioritas oleh sepupu – sepupu dari ibu yang memandang salah apa yang terjadi di keluarga kami. Tapi orangtuaku memilih untuk menjadi minioritas itu sendiri, sedangkan aku dan adikku memilih untuk mempertahankan solidaritas. Kami memilih untuk tidak menyalahkan orangtua kami, kami memilih keyakinan kami masing – masing. Kami memilih berjuang membanggakan orangtua, walaupun memerlukan pembuktian puluhan tahun. Tapi proses ini lebih mudah, daripada mengeluh dan menyalahkan orang tua. Kalimat favorit yang selalu saya gunakan adalah “Intinya aku sudah lahir dan diberi napas kehidupan lebih daripada duapuluh tahun, aku enggak mungkin menangis menjerit kepada mamaku supaya aku dimasukkan kembali dalam rahimnya. Itu mustahil”

Minioritas adalah bagian dari ekosistem mayoritas
dimana TUHAN memberikan hati yang sangat besar bagi mereka

Saya ingin sekali menulis PRIDE, ketika saya dimarahi oleh teman saya karena waktu berbelanja saya sering kali malas meletakkan suatu barang dan merapikannya seperti semula. Bayangkan jika ada sepuluh orang malas seperti saya dalam sebuah supermarket, kami adalah pengacau. Mungkin kita berpikir pembeli adalah raja dan para pegawai supermarket ini adalah dayang – dayang yang selalu tersenyum melayani kita. Tapi ingatkah kita raja bijaksana itu tidak membuat kekacauan seperti raja lalim, tapi selalu membereskan suatu masalah dengan keputusannya sendiri tanpa mengorbankan oranglain yang berada didekatnya. Lalu temanku berkata, “Kamu tau burju, kerjaanku setiap hari itu membereskan semua kekacauan seperti yang kamu lakukan ini. disaat aku juga harus mengawasi pembeli lain yang usil. Aku yang dipotong gaji, kamu tidak”. Saya kemudian berpikir terkadang kita telah menjadi mayoritas yang terlalu asik dan nyaman seperti raja dalam kehidupan kita, sampai menyadari ternyata kita bukan apa – apa.

Waktu liburan banyak sekali sampah di kantin
Berkata kepada mereka yang sedang asik di depan laptop
“Kita tidak memberi pak kantin gaji untuk membersihkan semua kotoran kita”

Lanjutkan membaca “PRIDE”