MAMA CANTIK

“Enggak punya mama itu sakit loh nak”
Itulah kalimat yang sering terdengar dari mama-ku sepanjang ingatanku.
Kalimat itu dikeluarkan bukan karena aku bandel dan tidak mendengarkan orang tua. Tapi karena, pengalaman pribadi mama-ku saat Opung Perempuan (Nenek ku dari Pihak Mama) meninggalkan kami.

“Tak bisa ku bahagiakan orangtuaku” . Itulah kalimat penyesalan selanjutnya.

Kamis, 16 Mei 2019
10.45 WITA
Kuingat janji ku di layar handphone untuk serah terima bangunan jam 11.00 WITA, sedangkan posisi pada saat ini sedang meeting terkait system di kantor.

11.00 WITA
Memohon izin dari meeting menuju proyek dan bertemu untuk serah terima. Pikiranku yang sedikit kacau, deg – degan dengan ntah apa yang akan terjadi, dan kekuatiran tidak beralasan menyertaiku

11.10 WITA
Tiba dilapangan bertemu klien, haha hihi, cuap sana, cuap sini.

11.23 WITA
Tanpa sadar telpon di Handphone sudah bergetar ke sekian kali. Kulihat layar, panggilan dari mama cantik sudah belasan kali. Tubuhku langsung lemas, pikiranku sangat was – was, “Apakah ini momen yang selama ini menghantuiku”. Kuberanikan menelpon balik mama cantik ku, jelas kudengar suara ibu – ibu (mama bagas) memberitahuku agar segera pulang ke Tanjung Uban karena mama cantik ku jatuh.

TANGISKU PECAH
TANPA PIKIR PANJANG, LANGSUNG MENUJU KE KANTOR
IZIN KEPADA KLIEN DAN ORANG DI LAPANGAN
AKU KALUT…
SUNGGUH KALUT..
BAHKAN KETIKA TULISAN INI KUBUAT, PIKIRANKU MENGENANG MASA TERSEBUT..

“TUHAN YESUS, TOLONG MAMA, BERIKAN MAMA YANG TERBAIK, AKU SAYANG MAMA”
KU ULANG DOA INI BERKALI – KALI DALAM HATIKU
KU TELPON ADIKU UNTUK KONFIRMASI TERKAIT HAL INI

Sekitar Pukul 12.00 WITA
Aku yang diarahkan teman – teman kantor ke lantai 2, untuk menangkan diri sambil mencari tiket pulang Bali – Bintan masih menunggu kabar. Masih berharap Tuhan Yesus memneri keajaiban yang luar biasa untuk kesekian kali dalam hidupku. Bahkan, jika pada saat tersebut ada pilihan untuk menukar jiwa. Aku menginginkan aku yang dipilih Tuhan bukan Mama Cantik ku.

TELPON BERDERING KEMBALI
TANGISKU PECAH
AKU TIDAK BERANI MENGANGKAT
AKHIRNYA PUTRI YANG MEMBERANIKAN MENGANGKAT TELPON DAN MENERIMA TELPON JAUH DARI JANGKAUAN PENDENGARANKU
SAYUP – SAYUP KU DENGAR, MASIH TERSELIP HARAPAN, AKU MASIH BISA BERSAMA MAMA, AKU INGIN MEMBAHAGIAKAN MAMA, HIDUPKU UNTUK MAMA, SEMUA KALIMAT HARAPAN ANAK MANUSIA DARIKU TIDAK LAIN HANYA UNTUK MAMA, UNTUK MAMA.

PUTRI DATANG…
PUTRI MEMELUK KU…
BU NURI MEMELU KU …
MEREKA MENANGIS …
TUHAN YESUS AMPUNI SEGALA KESALAHANKU DAN ORANGTUAKU..
KU SKIP BAGIAN INI, TANGISKU SAAT MENULIS INI PECAH KEMBALI

Inilah momen yang selalu aku tegarkan setiap hari, Anak Perantauan memiliki Mama yang seorang penyintas stroke selama 4 tahun. Dia dengan SANGAT BANGGA KUSEBUT MAMA CANTIK. Hadiah paling berharga yang Tuhan Yesus berikan dalam hidupku. Mama cantik yang tidak pernah mengeluh, menjadi inspirasi bagi orang lain dalam kesederhanaannya, keteguhan hatinya membesarkan anak – anaknya, dan tidak pernah takut miskin dan kekurangan.

berlanjut….