PRIDE

source: deviantart.net
source: deviantart.net , credit by : amandahuff

Setiap manusia memiliki kesempatan menjadi minioritas.
Tetapi tidak semua yang minioritas dapat memiliki solidaritas.

Dua bulan yang lalu saya tersentak kagum saat menonton sebuah film berjudul ‘PRIDE’, film yang berjudul perjuangan para kaum LGBT di inggris untuk memperjuangkan hak – hak penyetaraaan untuk tidak didiskriminasi, hak – hak pengakuan kaum minioritas, hak – hak dimana suara seperti lonceng gereja yang harus didengar bukan untuk diabaikan.

Saya ingin sekali menulis tentang PRIDE, ketika melihat bagaimana kelompok LGBT memilih kelompok buruh dari wales sebagai bagian dari perjuangan yang hakiki. Bagaimana solidaritas yang terjadi antar minioritas dapat membentuk harmoni perjuangan itu sendiri. Bagaimana akhir perjuangan itu bukan soal pengakuan hak, tapi soal mempertahankan kemenangan ini dalam semangat perjuangan sampai ke generasi berikutnya.

Kita generasi yang ketika kecil disuap, besar menyuap
Kita generasi yang mewariskan feodalisme terhadap sesama secara fasih
Kita generasi yang ketika aku dan kamu ada, tapi merasa tak ada

Saya ingin sekali menulis tentang PRIDE, karena kita hidup dalam kesempatan yang tinggi untuk memilih menjadi minioritas. Ayahku muslim, Ibuku Kristen, aku dan adikku terjebak sebagai minioritas oleh sepupu – sepupu dari ibu yang memandang salah apa yang terjadi di keluarga kami. Tapi orangtuaku memilih untuk menjadi minioritas itu sendiri, sedangkan aku dan adikku memilih untuk mempertahankan solidaritas. Kami memilih untuk tidak menyalahkan orangtua kami, kami memilih keyakinan kami masing – masing. Kami memilih berjuang membanggakan orangtua, walaupun memerlukan pembuktian puluhan tahun. Tapi proses ini lebih mudah, daripada mengeluh dan menyalahkan orang tua. Kalimat favorit yang selalu saya gunakan adalah “Intinya aku sudah lahir dan diberi napas kehidupan lebih daripada duapuluh tahun, aku enggak mungkin menangis menjerit kepada mamaku supaya aku dimasukkan kembali dalam rahimnya. Itu mustahil”

Minioritas adalah bagian dari ekosistem mayoritas
dimana TUHAN memberikan hati yang sangat besar bagi mereka

Saya ingin sekali menulis PRIDE, ketika saya dimarahi oleh teman saya karena waktu berbelanja saya sering kali malas meletakkan suatu barang dan merapikannya seperti semula. Bayangkan jika ada sepuluh orang malas seperti saya dalam sebuah supermarket, kami adalah pengacau. Mungkin kita berpikir pembeli adalah raja dan para pegawai supermarket ini adalah dayang – dayang yang selalu tersenyum melayani kita. Tapi ingatkah kita raja bijaksana itu tidak membuat kekacauan seperti raja lalim, tapi selalu membereskan suatu masalah dengan keputusannya sendiri tanpa mengorbankan oranglain yang berada didekatnya. Lalu temanku berkata, “Kamu tau burju, kerjaanku setiap hari itu membereskan semua kekacauan seperti yang kamu lakukan ini. disaat aku juga harus mengawasi pembeli lain yang usil. Aku yang dipotong gaji, kamu tidak”. Saya kemudian berpikir terkadang kita telah menjadi mayoritas yang terlalu asik dan nyaman seperti raja dalam kehidupan kita, sampai menyadari ternyata kita bukan apa – apa.

Waktu liburan banyak sekali sampah di kantin
Berkata kepada mereka yang sedang asik di depan laptop
“Kita tidak memberi pak kantin gaji untuk membersihkan semua kotoran kita”

Lanjutkan membaca “PRIDE”

Harapan!

Hidup ini bisa terdiri dari harapan.
Harapan yang bisa hanya terdiri dari permintaan.
Minta dan peminta – minta.
Entahlah…

Harapan itu beda dengan harahap, walau lidah bisa keselit mengucapkannya. Tapi bukan berarti setiap harahap pasti seseorang yang dapat memberi harapan dan bukan setiap harahap akan berhenti berharap karena susahnya mencari harapan harapan ditengah harahap harahap dimuka bumi ini. nah bingung kan lo!

Harapan itu adalah sesuatu yang kita inginkan terjadi, kenyataannya ketika harapan tidak terjadi rasa kecewa pasti akan selalu muncul. Harapan selalu ingin berteman dengan ikhlas, walau ikhlas terkadang ditolak oleh manusia yang memiliki harapan. Harapan memusuhi iri dan dengki, harapan benci kemunafikan, harapan tidak segan menolak kecurangan yang dapat menghancurkan orang – orang. Tapi harapan terkekang oleh manusia yang membawanya, membawanya kedalam permainan dimana ikhlas hanya menjadi seseorang penonton.

Harapan itu menjelma dari awal bumi diciptakan, bahkan ALLAH sendiri berharap menciptakan manusia yang baik dan tidak tergoda oleh iblis ditengah kemegahan taman eden. Apalagi kita manusia memiliki roh yang lemah, harapan itu pasti selalu ada. Harapan itu mulai menjelma ketika sang wanita dan sang pria disatukan dalam harapan akan pernikahan.

Sang Cewek : Sayang, kamu kok boros amat sih. Hemat dong, kamu belanja sepeda dan segala pernak perniknya kayak pohon natal itu udah bisa beliin aku cincin pernikahan bermata berlian loh.

Sang Cowok : Sabar sayang, belum waktunya..

Lanjutkan membaca “Harapan!”