Mandor In Grey

Tanjunguban, 30 agustus 2012

Ada yang aneh dari rasa ini, semacam cemburu tapi terlalu cepat. Mengintari angin dalam diam , kamu dan aku bersatu.

Dua hati yang telah dimiliki, bertemu tapi untuk saling menguji hati. Kamu tersenyum dan aku tersenyum, kita melebur dalam kenaifan.

Kamu manis, percayalah..
Melihat sinar matamu, aku merasakan damai..

Tapi jujur terkadang aku muak dengan sikap egois yang terpancar dari kerasnya rahangmu, adu kekuatan dan emosi yang kamu tampilkan membuat dirimu tampil lemah, sangat lemah.

Aku memilih untuk menghibur hati dengan kehadiranmu, setidaknya aku bisa melihat senyum kamu selama liburan ini. Percayalah sudah lama sekali hilang dari pandangan senyum termanis yang pernah kumiliki, yang kini telah berubah menjadi senyuman seorang pengkhianat.

Aku, yang selama liburan ini berubah menjadi gadis penjaga marka, dan kemudian memilih untuk diam, diam dalam kepolosan. Kamu pasti mengerti kan, saat aku mencuri pandang ke arahmu. Saat tatapan kita bertemu, saat hanya sinar mata dan semu merah yang mengawali percakapan kita yang tidak tersirat. Aku kikuk ketika mengetahui ada perasaan rindu yang membekas untuk menunggu kedatangan kamu disini. Rindu dalam runtinitas sederhana membuatkanmu secangkir coffemix atau teh’o .

Apakah kamu melihat gerak gerik yang aneh atau sikap yang menunjukkan rasa ingin mengetahui dirimu semakin dekat ?

Lihatlah ketika aku mencoba mengetahui apakah kartu mu telah keluar dari bola bilyard yang telah masuk.

Secangkir kopi malam ini terasa semakin pahit, malam yang terlalu indah untuk mengingat kembali mimpi tadi malam. Dalam mimpi, kamu datang serta dengan lembut menatapku dan berkata “Sebelum kamu pergi”, tersentak rasa rindu ini mulai menguak. Tapi biasan kebencian menyelimuti, setelah aku mengetahui kita tidak lagi sendiri. Aku mengikat diri untuk setia, bukannya kamu juga ?

“Aku benci senyuman lelaki yang terpancar tulus kepada wanita lain selain dari wanita yang menjadi kekasih hati dirinya “

Dan kemudian kita berdua terdiam dan tak mampu untuk saling memandang, it’s okay mandor… Lanjutkan membaca “Mandor In Grey”

Ini Rencanaku, Manusia.

Ini rencanaku,  manusia …

               Aku ingin terlahir bahagia, dari  rahim IBU yang penuh kasih aku ingin dilahirkan dan dalam pelukannya aku ingin selalu merasakan damai. Senyum semangat terpancar dari para bidan serta suster yang membantu persalinan, saudara – saudaraku, dan  kemudian antusias kakek nenek ku atas kelahiran cucunya. Dan AYAH ? , aku ingin dia yakin bahwa aku adalah kebanggaannya, tanda selamat datang meramaikan  kelahiranku ke dunia, dunia yang akan  sesuai dengan rencanaku, manusia.

          Dimasa kecil, aku ingin tumbuh berkembang dalam tangan tangan penuh kasih. Ibu ku datang menyusuiku dengan ASI, membantuku membersihkan popok,    menyanyikan ku nyanyian yang tidak aku mengerti. Aku tidak ingin merasakan sakit. Sakit itu tidak enak, sakit akan membuat ibu ku menangis. Aku tau ayahku bekerja, aku ingin ayah membelikan semua kebutuhan aku dan ibu ku. Aku dimarah oleh ayahku, ketika aku melanggar perintahnya. aku menangis dan aku tidak suka. Aku ingin dimanja, kemudian ibu datang memelukku dan membisikkan ‘anak ku tersayang’. Inilah rencanaku, manusia …

            Aku ingin sekolah, sekolah setingi tingginya . Aku ingin pintar, aku mau berprestasi, aku mau menjadi tatapan setiap mata yang memandang ‘Aku Hebat’ , aku ingin jadi kebanggaan kedua orangtuaku. Aku tidak ingin dipandang salah, apalagi ketika ibu ku mulai memarahiku ketika aku lupa waktu, lupa makan dan ayahku datang menasehatiku dengan suara yang dalam, ketika aku terlena untuk bermain  ‘Kamu mau jadi apa sekarang ?’. sekali lagi ini rencanaku, manusia …

          Aku ingin melihat masa depanku, aku ingin menjadi apa yang aku cita citakan. Aku ingin segera menikah, biar ayah dan ibuku merasakan kesuksesan dari keinginan ku ini. Di pelaminan nanti aku bisikkan kepada ibu ku ‘Ma, terimakasih, sebentar lagi cucu ibu menyusul’ dan kemudian aku mencium pipi kanan dan kirinya, dan aku tau air mata ini akan menetes nantinya dan di depan ayahku aku katakan ‘ Pa, aku mau tetap menjadi kebanggaan mu’, kemudian aku akan berkata dalam hatiku  inilah rencanaku, manusia dan aku merasa bahagia.

Inilah rencanaku, manusia …

Aku tidak ingin merasakan sakit, aku malu untuk berkata aku terjatuh, aku takut menjadi yang terbawah diantara orang lain, aku takut merasakan kehilangan atas apa yang aku miliki, aku lemah.

Inilah rencanaku, manusia …

Aku manusia yang hanya bisa berencana, berencana dengan sombongnya.

               Kemudian aku ingat akan satu hal, sesungguhnya inilah rencanaku sebagai manusia yang aku mengerti, yang  tercipta untuk kembali menjadi debu dan tanah. Aku manusia, tapi dengan segala kesombonganku ini aku tunduk dalam pengharapan. Bahwa aku dipersiapkan untuk satu hal diluar rencanaku, rencana indah dari-Nya.

Dan ketika aku merasa sakit, terjatuh dan kehilangan. Hidupku mungkin berubah, tapi harapanku tidak…

Lalu, aku mengerti

#Di doa ibuku nama ku disebut#

 

Rabu, 22 agustus 2013 untuk saudaraku Ika Juliana, kita tidak akan pernah sendiri. Aku janji :’)

Aku Malas

Aku malas

Ntah kenapa malas, sungguh malas, las , las

Apakah si las juga semalas aku ?.

Inilah omongan seorang pemalas dalam tulisan tangan ? Bukan  ini ketikan yang tidak dalam bentuk guratan pena dan ini malas.

si pemalas hanya berbaring diatas dipan semen, malas hidupkan kipas angin, sejuk panas ntahlah ‘aku malas’, sejukkan diri lewat semen sajalah, kalo malas. Sekira kiranya penyakit juga datang aku malas, biarlah sudah tua kena rematik , yang penting dimasa muda aku malas

Mandi sekali sajalah sehari, makin bagus sekali dua hari. Aku malas, malas membersihkan kotoran kotoran dari tubuhku, Daki di sekitar leherku, hitam berkerak biarlah daki jadi  ‘tanning’ alamiku. Tubuhku bau yang penting bukan tubuhmu, aku malas.

Aku malas, masa aku harus bekerja dan mengeluarkan keringat ? Aku terlalu malas untuk bertemu orang orang yang di luar sana, penuh anomali, penuh dusta, dan sangat penuh rupa, aku malas. Peduli setan dengan omongan mereka, aku malas

Aku cermin sebagian pemuda Indonesia, aku malas mendengar kata perubahan. Apa itu perubahan ? Jadi lebih malas sudah baik, baik tidak merusak fasilitas negara dan publik. Lebih baik diam dirumah, menunggu cucian kering, itupun ibuku yang mencuci. Menunggu nasi masak , itu pun ibuku yang memasak. Aku malas

Aku malas untuk menikmati hidup, telungkupkan sajalah badan, selimutkan dan aku cukup dengan ini. Aku malas bicara, aku malas berpendapat, karena hanya orang orang gila saja yang didengarkan, aku tidak mau gila, aku hanya mau malas.

Aku malas dan aku merasa aku tidak merugikan negara, aku tidak mengemis di jalanan dan menjadi incaran para serdadu hijau berparas beringas tak manusiawi.  aku juga tidak menjadi beban dalam jatah raskin, bantuan langsung tunai, asuransi kesehatan is miskin, aku malas

Aku malas untuk mengkampanyekan diri, aku malas melihat senyum senyum rupawan para calon tikus yang tertempel di dinding dinding butut gang sempit rumahku. Buat apa ? Toh mereka akan sama seperti aku nantinya, malas untuk mendengarkan perasaan perasaan rakyat kecil.

Aku bukan forum budaya, bukan bagian dari lintas agama, aku berdiri sendiri dalam kemalasanku, mau apa kamu ? Toh iklan rokok dan kondom masih bebas berkeliaran merusak citra negeri mu , mengerogoti hasil survei kebobrokan karakter bangsa mu ! Tidak seperti kemalasanku, aku hanya diam dan sekali lagi perduli setan, aku malas.

Aku malas, aku mau jadi apa ? Kerja tak punya, hanya numpang hidup untuk bernapas di rumah bersekat dinding dingin penuh coretan dari debu . Perubahan tak aku miliki, perasaan ibuku tak aku hargai , aku hanya bisa mencerca keadaan lingkunganku , negara tempatku berdiri dan yang terpenting aku tidak gila untuk berpikir kritis . Karena Aku malas !

Aku malas, ini diriku. Mungkin saja cerminan mu ~

 NB : Tulisan untuk para apatis

//

Tanggung Menulis

Tanggung menulis

             Apakah saya bisa disebut seorang  penulis ? Tapi, saya tidak memiliki buku hasil dari  tulisan saya, tidak mempunyai editor atas setiap kata demi kata yang saya posting. Hanya wordpress ini, catatan kecil dari ‘melek internet’ yang saya miliki. Ironinya adalah ‘entahlah ini terpublikasikan atau tidak, dibaca atau tidak, terpampang nyata atau justru  sebaliknya’

Tanggung menulis

               Yah, saya sedikit menyesal mengawali tulisan ini dengan mood negatif. Kemudian saya bertanya pada kalian yang membaca tulisan ini ? Apakah, mood negatif itu kalian rasakan juga ? Seandainya jawabannya ‘Iya’ , berarti saya berhasil menyampaikan perasaan itu kepada anda.

Tanggung menulis

              Menulis ?  Tulisan ? Alasan dasarnya,  Itu hanya sekedar hobi bagi saya, saya tidak mengerti apakah yang selama ini saya tulis sesuai dengan kaidah menulis yang baik dan benar. Kemudian Alasan sebagai hobi ini saya kembangkan, saya ingin mencoba menginspirasi, mentertawakan , dan mengajak berpikir kritis atau mungkin abnormal. Alasan ini kemudian saya objekan secara sederhana bukan kepada orang lain atau kalian yang sedang membacanya, tapi kepada DIRI- SAYA- SENDIRI . Egois bukan ?  Mungkin kalian bertanya , ‘Terus kenapa harus di posting , tulis aja di diary dan digembok serapat rapatnya ?’.

 

Saya akan menjawab, ‘supaya ada  sense of belonging’

Ada selentingan sayap kiri ‘ Berarti anda mau pamer dong ? ‘

 Kemudian saya menjawab ‘ Sense of belonging atau rasa memiliki bukan hanya dari diri saya sendiri atas semua yang saya tulis, tapi atas kesamaan serat kehidupan yang kita miliki. Kamu dengan mengulik segala hidup dan perjalanan hidup yang kamu  miliki. Sama atau berbeda dalam kita menjalani hidup masing – masing , untuk apa jadi masalah ? Rasa saling memiliki ini yang seharusnya  merangsang otak kanan kita untuk berkembang dan berkarya. Dimulai dari hal sederhana, untuk diri kita sendiri dan bersyukur ketika tulisan kita dapat bermanfaat untuk orang lain ‘ 🙂

 

Tanggung menulis 

 Pernah mendengar ‘Panjang atau pendek tulisan , menarik atau tidak tulisan sangat menentukan pantas tidaknya untuk dibaca’

         Jika sekarang kalian yang membaca merasa ‘ Tulisan ini panjang dan tidak menarik ?’. Silahkan untuk berhenti membaca, dengan peringatan keras , SEKARANG JUGA ! Bukannya pelit, tapi untuk apa memaksakan diri untuk hal yang kalian enggak suka ? Mau bertahan dan jatuh jauh lebih dalam pada tulisan yang tidak menarik ini kemudian berdampak pada keluarnya energi negatif dalam diri ? apa manfaatnya  ?

        Kemudian ketika tulisan ini ‘telah’  menjadi pendek dan sedikit  menarik bagi kalian, saya ingin menjelaskan satu hal yang spesifikasinya adalah ‘saya menulis emosi yang saya miliki, saya keluarkan secara positif atas hal hal yang terjadi hari ini atau berdasar pengamatan saya  terhadap orang lain’, kembali lagi bahwa menulis penekanannya bukan berdasar kepada ’emosi’ orang lain. Karena, kita tercipta oleh hati dan perasaan masing – masing. Tidak ada tulisan yang benar benar buruk kecuali  kita menulisnya  dengan ‘teknik manipulasi’ yaitu dengan mencoba menjadi emosi orang lain yang sebenarnya tidak pernah kita jamah situasi atau kondisinya, It’s so worst dude ! Lebih baik jadi orang kedua atau ketiga dalam mendelegasikan tulisan, better than anything you can make your art of pure emotion.

Tanggung menulis

Apakah tulisan ini masih kurang menarik ?

 Saya benci untuk mem-bully tulisan atau tulisan untuk mem-bully. Harap beda ratakan, dengan kritik pada tulisan dan tulisan untuk mengkritik.

               Bullying dan bully itu sama sekali tidak membangun, kita hanya membuat diri kita puas atas cercaan paling bagus yang kita miliki. Tanpa memikirkan, ‘iniloh aku, apakah aku baik dalam segala hal daripada dia yang aku hina ?’ Kalian yang mencoba menulis tulisan untuk mem-bully orang lain malah memikirkan ‘Rasakan, kapok kamu kalo baca tulisanku, Malu semalu malunya’ atau ‘dengan tulisan ini aku bisa beken, lucu dan menarik untuk konsumsi publik. Sebodoh amat dengan dia, toh kalo mampu, balas saja tulisanku. Biar sekalian jadi PENCITRAAN’  dengan tanduk evil merah yang tanpa disadari  nongol secara tidak kasat mata di kepala. Ironis sekali fenomena seperti ini dan kasus tulis menulis bullying sangat  marak terjadi di Indonesia. Dari Sabang sampai merauke, dari beragam lintas budaya dan lintas agama. Intrik organisasi antara individu dalam kelompok, kelompok satu dengan lainnya. Mereka berlomba menulis ‘Bully’. Pada akhirnya, kita yang cerdaslah yang harus membedakan dengan kritis, sang pengkritik tulisan dan tulisan untuk kritikan berisi pemikiran kritis yang  akan mencoba memberi solusi ‘lebih baik, sebaiknya, alangkah indahnya’ setelah kata ‘saya prihatin’.

                Menulis lah dengan indah, menulis lah untuk membangun perasaan, membangun semangat dan bedakan juga menulis secara pribadi  untuk ‘menyenangkan seseorang yang kita tuju dengan maksud tertentu’, karena pada akhirnya teknik manipulasi rasa dalam tulisan bisa sangat sangat berdampak buruk kedepannya, menulis lah dengan jujur dari hati karena pada jaman peradaban ini setiap orang ditakdirkan untuk pandai menulis, setidaknya menulis nama. Ketika kita berani menulis nama sendiri  ‘Parjo’ saja harus diganti dengan ‘kelvin’, mungkinkah kita berani  untuk  membaca  buku kehidupan kita di akhirat nanti .

Tanggung menulis

 

Saut Poltak Tambunan, ” Saya tidak mau menjadi editor sebuah tulisan dengan hanya  mengatakan buku ini Best Seller “

Pelayanan publik, NOL !! Part 2

Senin, 29 Juli 2013

Tanjungpinang, rintik hujan 13.31 WIB

11.15 WIB

*ngobrol ngalur ngomel ngidul bersama Mifta Fisya Ainingrum di ruang tunggu Dinas Kependudukan Kabupaten Bintan*

“Dek, mau nunggu siapa ya ? Urusan apa “

“Saya nunggu pak bambang, tapi sebenarnya saya juga enggak tau harus menunggu siapa bu. Saya ngurus masalah surat pindah saya, saya disuruh ibu disana nunggu ‘bapak’ disini”

“Bentar ya dek, ibu tanyain”

-selang beberapa menit kemudian-

“Dek, ayo ikut ibu”,  selanjutnya ibu yang memberi pencerahan ini aku sebut ibu muka baik untuk kembali ke  ruangan pertama yang mendentingkan soal disiplin enggak disiplin tadi pagi. Ibu muka antagonis  mulai ngomel (Lagi) soal masalah surat pindah 2011 dengan segala hastag yang sama , aku bingung musti balik ngomel atau enggak . Karena  sudah berkali kali  ibunya ngomel bolak balik dengan didengarkan pegawai disana dan  tidak ada satu masalah pun yang selesai. Right ? Bahasa mahasiswa yang ‘tidak disiplin’, Koar Koar Basi .

 Lalu dengan semena mena dan tidak bertanggungjawab dia bilang “kamu besok kesini lagi pak bambang (Mr. Unknown Person) enggak masuk hari ini'”

Ibu muka baik “Pak bambang, enggak masuk  lagi sakit hari ini”

 #Jederrrrr

Terus ? Kenapa saya disuruh nunggu disini seandainya orang yang saya tunggu 3 Jam yang lalu tidak ada ? Ini yang namanya disiplin ? Pembohongan kedisiplinan oleh pegawai pemerintah ? Terus terang saya boleh ikutan  ngomel enggak bu ?  ini hari kedua saya datang ke kantor dinas kependudukan Kabupaten Bintan ini, hari pertama (Jum’at, 26 Juli 2013, sekitar menuju  pukul 12.00 WIB)  dengan jelas pak bambang berada di depan mata saya dan ibu muka antagonis dan melihat kita. Tapi mengapa ibu enggak punya hati, ngomong langsung dengan gampangnya ke pak bambang ? . Saya cuma dapet pesan, supaya hari senin (Hari ini, red) bawa materai. Materai yang saya bawa juga enggak digunakan, bahkan mungkin enggak inget kali ya bagi ibu yang  ngomol asal ceplos. Kemudian saya berpikir, benar benar harus dilacak akreditasi Ibu muka antagonis ini. Bukan soal harga, tapi soal guna fungsi omongan yang dikeluarkan. Maaf Pak Bambang Sugianto, Amp Kepala Bidang Kependudukan Kabupaten Bintan. Saya tau bapak orang yang baik, maaf  Saya tidak tau nama ibu muka antagonis ini, tapi saya berjanji untuk kedatangan saya yang ketiga kalinya, namanya akan saya tulis. Karena yang saya yakini, bukan birokrasi yang salah di dinas bapak, karena sistem disusun oleh para intelek, tapi OKNUM yang merusak semua. Bayangin aja, belum selesai jam  tugas udah mikirin tupperware yang mau dibeli jam 12.00 buat lebaran , waduh dangereous banget walaupun jam istirahat keluar untuk shopping dalam kondisi berpakaian dinas, dalam konteks apapun dan untuk hal sekecil ini bisa dan sangat mungkin sekali membahayakan ketahanan nasional. Dan sekali lagi saya sangat sayangkan kita membayar pajak untuk orang orang seperti ini. NOL !!

#Jederrr

 Ibu muka baik “iya nak, kamu bawa dulu surat pengantar dr RT, RW, dan kelurahan lalu camat terakhir baru kesini”

 ” Berarti bukan besok kan bu ? “

 Ibu muka antagonis “iya bawa dulu surat pengantarnya”

 Ok fine, no judge, no pain !!

Ibu muka antagonis mungkin tersenyum melihat kesulitan saya, tapi enggak bisa menjelaskan secara ‘disiplin’ apa maksud senyumannya yang bisa jadi iya atau tidak  dikategorikan sebagai bentuk kepuasan atau  bentuk pencitraan di mata publik , sedikit formalitas lah . Tapi terimakasih, Pemerintah Indonesia telah merelakan uangnya secara rutin untuk memberi gaji, tunjangan, THR untuk oknum seperti ini. Dan saya yakin, secara demokratis pasti banyak kualifikasi yang jauh lebih tinggi dan seharusnya bisa duduk sebagai pegawai disana. NOL !!

 Saya enggak akan menyerah, saya yang akan buat ibu menyerah untuk mengerjai saya dan orang orang di sekitar saya yang mungkin ‘bernasib sama’

 Saya akan datang lagi setelah surat pengantar selesai, kalo masih soal permasalahan lempar sana sini, maaf saya sudah rekam semua permintaan Ibu Muka Antagonis. Inget ibu ini zaman kamera, zaman kamera itu bukan hanya untuk menghabiskan waktu dengan marble blast di Note 2, tapi positif untuk berintuisi dengan irama kehidupan, termasuk merekam agar suatu saat ‘miss understanding’ bisa di luruskan. Great Job 😀

 Untuk ibu muka antagonis ketahui, dan bahkan seorang bos tidak mempunyai sifat seperti ibu ini, dalam segi management dan struktur dalam dinas ibu ini siapa sih yang kita sebut ‘customer’ ? , Kami Indonesia bu, kami bukan hanya terdiri dari orang orang yang datang memakai stelan mewah dan perhiasan atau mungkin yang menenteng Prada dan harus ibu layani secara baik, bahkan benar benar baik bagi  para calo yang mungkin menghalalkan segala hal dalam menyangkut masalah kependudukan dengan uang, dan jujur saya tidak mampu untuk membayar mereka. Ini sudah menjadi tuntutan ibu dalam bekerja bagi publik,  semua ‘customer’  tanpa terkecuali dengan segala permasalahan apapun seseorang yang duduk di bagian kependudukan mampu dan bisa menjawab segala permasalahan kependudukan yang dimiliki oleh customer. Saya oke saja, jika ibu memarahi saya atas kelalaian dan kedisiplinan yang saya miliki, saya anggap itu sebagai suatu perhatian, tapi ketika ibu tidak mendengarkan saya berbicara dan bertanya serta membalas dengan diam dan kemudian memberikan hal hal yang menyulitkan saya. Apakah respect harus saya utarakan ? Apakah saya harus respect baju kepegawaian yang Ibu miliki ? Jujur, ketika didengarkan kembali sila ke 5 ‘Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’ saya sangat malu pada kondisi prihatin OKNUM bangsa saya sendiri .. NOL !!

 Mom Can you repeat again to me ‘ ILLEGAL HUMAN’ ? Don’t you know I’m Indonesian. Right ?